Homeschooling, hanya soal pilihan.

Homeschooling kini semakin populer sebagai metode pendidikan yang diterapkan orangtua bagi anak-anaknya. Sebagian orangtua memutuskan untuk memenuhi hak pendidikan anaknya melalui homeschooling. Orangtua menganggap homeschooling lebih aman karena dapat memantau perkembangan minat dan bakat si anak secara langsung. Jika Anda ingin menerapkan sekolah rumah bagi putra-putri Anda, sebenarnya hal-hal yang perlu diperhitungkan ketika hendak memutuskan homeschooling sebagai lahan pengembangan diri bagi anak-anak?

Psikolog Tika Bisono mengatakan, homeschooling adalah sebuah pilihan agar anak-anak tetap bisa mendapatkan pendidikan ketika tidak bisa menjangkau sekolah formal karena alasan tertentu. Menurutnya, anak-anak masih sangat memerlukan dunianya. Sangat lumrah jika mereka masih suka bermain, ataupun agak nakal. Tetapi, menurutnya, hal itu hanya bagian lain dari sebuah proses pembelajaran anak.

Menurut Tika, walau pun sekolah formal adalah tempat paling pas untuk anak-anak mengenal dunianya, tetapi homeschooling juga dinilainya cukup baik. Khususnya bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan hak pendidikannya di sekolah formal. Entah karena alasan sakit sehingga harus dirawat, tidak mendapatkan akses pendidikan karena tinggal di pedalaman, atau hal apa saja yang membuat anak-anak kesulitan mmenjangkau sekolah normal.

“Jika memang tidak mungkin di sekolah formal, maka homeschooling bisa menjadi sebuah alternatif,” kata Tika kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Ia menekankan, homeschooling tidak untuk dipraktekkan secara normatif. Dalam arti, si anak tidak harus keluar dari rumah, bertemu gedung yang bernama sekolah lalu kemudian menyatu dengan kehidupan sosial di sekolah. Seandainya anak-anak memang tidak mampu ke sekolah umum, maka homeschooling mampu menjadi sarana untuk menyelamatkan martabat mereka sebagai seorang anak. Dimana ketika mereka bertemu dengan anak-anak seusianya, maka pemikiran mereka bisa tetap sama.

Sebab, menurut Tika, sekolah formal berguna untuk mengembangkan dan melatih psiko sosial anak, dan homeschooling mempunyai persoalan ketika anak-anak tidak bertemu dengan kondisi sosial di sekolah formal. Meski demikian, homeschooling dianggapnya lebih baik daripada anak tidak mendapatkan pendidikan sama sekali.

"Apapun itu, homeschooling akan membuat mereka tetap inkonteks dengan dunia sekolah. Karena bisa merekatkan apa yang menjadi dunianya. Tantangannya adalah bagaimana membuat homeschooling tetap setara dan menyajikannya sesuai porsi, karena itu penting untuk mencegah anak-anak merasa terasing," ujar Tika.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah motif yang membuat anak-anak memang harus menempuh homeschooling. Motif tersebut harus bisa menjelaskan suatu kondisi yang membuatnya benar-benar tidak bisa menjangkau sekolah formal. “Saran saya, sebaiknya anak-anak disarankan untuk homeschooling hanya jika benar-benar enggak mampu menjangkau sekolah formal. Tapi jika homeschooling hanya sekedar buat ajang gaya-gayaan, itu akan sangat berbahaya,” ujarnya

Source.